Stress menyebabkan Kegilaan?


Siapa yang tidak sedih membaca kisah tentang Anak kecil yang menjadi gila. Konon anak perempuan itu jadi sering meracau tidak jelas. Menyebutkan kata-kata yang pernah dia dengar, namun dengan susunan yang tidak dimengerti orang lain. Padahal sebelumnya anak itu baik-baik saja.
Penyebabnya diduga karena aktivitas belajar dan les yang berlebihan. Hal ini memancing banyak berkomentar supaya para orang tua lebih peka pada kondisi anak-anak mereka. Kalau anak tidak sanggup, jangan dipaksa. Les jangan berlebihan, sebisa anak saja.
Terlepas dari apakah kisah tadi hoax atau bukan, saya sih setuju saja tentang kesimpulan itu. Orang tua boleh mengajak anak pada berbagai aktivitas akademik di luar sekolah. Asalkan keputusan untuk terus ikut atau tidak diberikan pada anak. Sesuatu yang dipaksakan tidak akan baik hasilnya. Sebaliknya, sesuatu diminati tanpa disuruh juga akan rajin dilakukan.
Namun, Saya tergelitik ingin membahas mengenai relasi antara aktivitas akademik, stress, dan kegilaan. Apakah memang berhubung sebab akibat seperti demikian?
Soalnya hal ini bikin sress kita juga kan. Saya jadi bertanya-tanya. Perlukah saya juga khawatir jika anak nantinya akan juga gila kalau saya ajak les? Sejauh mana sih batasan stress anak? Gimana saya tahu kapan harus berhenti dan kapan harus mendorong anak lebih keras berusaha? Aktivitas apa yang ngga bakal bikin anak saya gila?

Early onset usually equals bad prognosis

Keraguan saya tentang kisah itu dimulai dari diagnosa dokter yang menangani anak malang itu. Saya menduga diagnosanya adalah Chilld Schizophrenia. Kasus yang tidak umum terjadi memang,tidak seperti kasus autisme, ADD, ADHD yang lebih sering terjadi pada anak
Schizophrenia bisa diartikan sederhana sebagai kegilaan. Orang gila yang umum diketahui masyarakat ya orang yang mengidap Schizophrenia. Gangguan kejiwaan lain biasanya tidak terlalu tampak seperti kentaranya Schizophrenia.
Sayangnya dibanding Autisme yang sudah sering dibahas dan sudah banyak terapi, namun, untuk schizophrenia anak sepertinya masih jarang. Sekolah-sekolah juga sudah banyak yang menerima anak autis dengan metoda inklusinya, tapi tidak untuk schizophrenia. 
Schizophrenia biasanya mulai muncul pada usia 20-an, meskipun kadang baru muncul pada usia 40-an. Makin lambat gejala kegilaan muncul, makin sedikit gejala negatif yang muncul, pengobatan juga makin mudah. Sebaliknya makin dini gejala muncul, maka cenderung kondisi akan memburuk. Maka bisa kita bayangkan betapa beratnya kehidupan anak itu selanjutnya bila memang mengidap schizophrenia.

Dalam gelap

Gangguan yang khas membedakan schizophrenia dari gangguan kejiwaan lain adalah halusinasi. Seseorang yang mengidap schizophrenia umumnya mendengar bisikan-bisikan yang tidak didengar orang lain. Ciri lainnya adalah sikap pemalu, tertutup, dan kalau bicara kadang melantur. 
Bicara melantur pada pengidap schizophrenia ini memiliki pola khas. Awalnya dia bicara seperti orang normal, namun saat lama-lama diajak bicara baru terasa janggal. Respon yang ngga nyambung dengan topik pembicaraan, penggunaan kata-kata yang tidak pada tempatnya, istilah-istilah baru yang belum pernah ada yang tahu, itu beberapa keanehan komunikasi yang umum ditemukan. Seakan akan saat kita ngobrol ada orang lain yang juga ngobrol bersama kita, tapi cuma diketahui dan ditanggapi oleh si pengidap schizophrenia. 
Mengapa orang bisa seperti itu? Sungguh ada banyak penyebab gangguan schizophrenia. Sayangnya sepertinya stress karena les belum pernah masuk didalam salah satu penyebabnya. Ini yang membuat saya bertanya-tanya, cerita anak tersebut benar atau tidak.

In our DNA

Penyebab schizophrenia yang sudah ditemukan adalah adanya kelainan gen. Hal ini terlihat dari besarnya kecenderungan seseorang mengalami schizophrenia apabila ada anggota keluarga dekatnya yang juga pengidap. Maka, apabila dalam keluarga kita tidak ada sejarah schizophrenia, kita boleh sedikit mengambil nafas lega. Tapi lagi-lagi di cerita itu tidak ada kisah tentang sejarah keluarga, hanya diceritakan si Ibu yang cerdas.

Masa rawan

Penyebab lain yang berpengaruh adalah kejadian pada saat kehamilan, kelahiran, dan masa bayi. Apabila saat kehamilan, janin terpapar oleh virus yang kebetulan menyerang otak, maka bisa jadi anak terlahir dengan membawa "bakat" schizophrenia nantinya. Kekurangan oksigen saat bayi lahir juga bisa menjadi faktor yang mempengaruhi perkembangan otak bayi yang dapat menjadi pembawa "bakat" schizophrenia
Faktor penyebab ini tidak selalu membuat anak menjadi schizophrenia pada masa dewasa. Kadang meskipun anak memiliki "bakat" schizophrenia ia bisa menjadi manusia sehat mental sampai akhir hayatnya. "Bakat" schizophrenia baru muncul menjadi penyakit schizophrenia saat seseorang terpapar stress berat. Stress berat ini bisa berupa penganiayaan, pelecehan seksual, kehilangan orang tua, dan lain sebagainya. Namun, tampaknya stress karena belajar belum pernah masuk pada kategori ini.

Mengintip area abu-abu

Apapun penyebabnya, dampak biologisnya adalah perubahan pada komposisi zat kimia otak. Seseorang yang ber"bakat" schizophrenia adalah orang yang area otaknya berbeda dengan orang normal. Ada area otak yang seharusnya mengatur fungsi berpikir jadi tidak berfungsi dengan benar. Hal ini membuat perilaku pengidap schizophrenia menjadi tampak tidak normal. 
Sekali lagi, otak pengidap schizophrenia berbeda sejak awal dari otak normal. Maka, stress yang dialami orang normal tentu tidak akan membuat otak kita berubah sedrastis itu. kecuali awalnya memang ada "bakat".
Orang normal tidak akan menjadi schizophrenia hanya karena stress. Sebaliknya orang yang schizophrenia bisa jadi saat kecil terlihat normal. Namun, lama-lama, saat jaringan otaknya sudah cukup banyak yang terganggu, akan muncul juga gejala gilanya, dengan atau tanpa stress.

Kesimpulannya adalah seorang anak yang tidak ber"bakat" schizophrenia tidak akan mengalami gejala kegilaan. Maka, kalau benar ada anak yang mengidap schizophrenia, maka ada gen yang dibawa yang menyebabkan dia rentan. Les, belajar, sekolah, hanya pemicu yang mempercepat kemunculannya.

A different look

Saya kadang menjelaskan schizophrenia seperti kecacatan. Kita tidak tahu apa yang menyebabkan ada anak lahir buta, tuli, bisu, tanpa tangan, tanpa kaki, atau berbakat schizophrenia. Kita hanya tahu anak lahir dengan perbedaan itu. Kita cuma bisa mendidik anak itu dengan keunikannya agar ia bisa mandiri dan berkembang sampai batas terbaiknya. 
Kalau kasus anak perempuan tadi benar, maka menilai les, sekolah, kursus, sebagai pihak luar yang menunjukkan pada orang tua anak itu tentang bagaimana kondisi anak itu sebenarnya.
Ini seperti orang tua punya anak tuli, tapi tidak pernah tahu anaknya tuli. Saat bertemu dengan orang membunyikan musik pada anak, baru orang tua jadi tahu anaknya selama ini tuli.
Jadi terlepas dari benar tidaknya kisah tadi, yang bisa membuat kita bernafas lega. Ingat-ingat saja, kita punya tidak riwayat keluarga schizophrenia, ada tidak gangguan pada kehamilan dan kelahiran, serta selama ini anak kita pernah tidak menunjukkan gejala halusinasi. Kalau tidak ada tanda-tanda, kita bisa cukup tenang mengenalkan anak kita pada berbagai aktivitas. Selanjutnya cukup biarkan anak yang memilih sendiri mau menekuni aktivitas yang mana.

0 comments :