Apakah benar psikologi mengharamkan kata jangan?

Malu dan gemes itu yang saya rasakan setiap kali ada yang membagikan sebuah artikel tentang pengharaman kata "jangan."
Malu karena sebagai muslim ternyata masih ada sesama muslim yang gegabah mempertentangkan agama dan ilmu. Gemes karena sebagai orang yang mempelajari psikologi, ternyata ada konsep dalam ilmu ini disalah tafsirkan.
Artikel itu akan saya bahas kesalahan tafsirnya satu per satu dengan urutan sama dengan artikel aslinya. Namun, hanya bagian yang salah fakta saja, opini menyudutkan tidak saya tanggapi.

Mari kita mulai dari bagian yang ringan.

A time apart

Penulis menulis seperti ini:
Adakah pribadi psikolog atau pakar patenting pencetus aneka teori ‘modern’ yang melebihi kemuliaan dan senioritas Luqman?  Tidak ada. Luqman bukan nabi, tetapi namanya diabadikan oleh Allah dalam Kitab suci karena ketinggian ilmunya. Dan tidak satupun ada nama psikolog kita temukan dalam kitabullah itu.
Data yang menggoda seakan apa yang ditulis menjadi benar karena Al Quran sendiri menjadikan Luqman sebagai contoh, bukannya psikolog. Sayangnya, penulis mengabaikan fakta bahwa Lukman dan Wundt berbeda beberapa puluh abad. FYI: Wundt adalah bapak psikologi modern, bukan Freud atau Pavlov.
Alquran dan ilmu psikologi sendiri berbeda sekitar 1500 tahun. Psikologi adalah ilmu muda yang berusia belum 200 tahun, sedangkan Al Quran sudah hampir 15 abad. Maka tentu tidak ada satupun psikolog akan ada dalam Al Quran.
Namun, apakah ini berarti Al Quran tidak memberi landasan tentang psikologi?

Insentive, reward, dan punishment, lalu dimana larangan?

Sekarang langsung ke intinya, apakah benar psikologi melarang penggunaan kata jangan?
Mari kita telaah.
Dalam mengajarkan perilaku baik pada anak, ini proses yang bisa kita lakukan.

Gentleman Agreement

Konsep dasar social learning theory adalah manusia meniru apa yang dilakukan manusia lainnya, berikut konsekuensinya. Sehingga saat ada kejadian yang berdampak buruk, dia tidak harus mengalami hal yang serupa. Dia bisa diberitahu sebelumnya tentang sebab-akibat dari perilaku yang dilakukan.
Maka, jika kita ingin anak kita tidak nangis ketika diajak ke toko maka yang harus dilakukan pertama bukanlah menghukum dia. Tapi berikan penjelasan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di toko. 
Misalnya: di toko boleh bisik ke mamah tentang makanan yang diinginkan, tapi tidak boleh marah kalau kata mamah makanan itu tidak sehat. Boleh pilih makanan lain kalau usulan makanan di tolak Kalau marah, nanti dihukum oleh mamah.
Kalau sudah ada kesepakatan. Maka boleh kita ke tahap berikutnya.

Reward and Punsihment

Prinsip sederhananya adalah saat anak melakukan sesuatu yang positif, maka perlu kita beri penghargaan. Penghargaan ini bisa berupa apa saja, pujian, senyuman, hadiah, pelukan, apapun yang membuat anak senang dan paham bahwa apa yang dia lakukan adalah sesuatu yang positif.
Maka, jika si anak sukses anteng-anteng dan tidak ngamuk-ngamuk pas ke toko, kita perlu hadiahi dia dengan sesuatu yang menyenangkan. Apakah kita bilang "anak mama penurut sekali tadi, mama suka deh kalau adik nurut kaya tadi"

Apakah ini ada dalam Al Quran?
Tentu saja, bahkan Allah yang memberikan sendiri pujian tersebut pada hambaNya yang menjalankan sesuatu dengan benar.
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”(QS. at-Taubah [9]: 100).
Disini bisa kita lihat, setelah orang-orang masuk islam tanpa menunda-nunda, mereka diberi pujian oleh Allah. Jadi tidak ada pertentangan antara ilmu psikologi dengan Al Quran.

Pasangannya adalah pusihment alias hukuman
Kebalikan dari reward, hukuman diberikan saat seseorang melakukan kesalahan. Setelah kesalahan terjadi, maka anak kita hukum. Hukuman bisa berbagai macam, kita marahi, cemberutin, diomelin, dan lain sebagainya.
Maka, kalau anak taunya ngambek pas di toko, boleh lah kita hukum dengan kita cemberutin.

Lagi-lagi hal ini juga dicontohkan dalam Al Quran:
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Maidah [5]:38)

Jadi gimana posisi kata "jangan"

Kata "jangan" ini adalah fase pencegahan. Adanya di awal saat kesepakatan terjadi. Kata "jangan" boleh banget dimasukkan pada saat sebelum kejadian.
Kalau reward dan punishment diberikan setelah kejadian, maka aturan-aturan disepakati sebelum kejadian.
Kita boleh melarang anak kita untuk tidak boleh ini itu. Tapi ingat, ini sebelum dia bertindak. Kalau ia sudah melakukan sesuatu, maka biarkan dia berkreasi. Kecuali tentu saja, apa yang dia lakukan kita nilai bisa membahayakan kalau tidak dicegah.
Kita perlu fleksibel, psikologi juga tau banget itu.
Bayangkan kalau kita berkata jangan tanpa ada kesepakatan sebelumnya. Kita ngga pernah membuat kesepakatan bahwa anak ngga boleh ngambek kalau ke toko, maka jangan salahkan anak kalau ia ngamuk-ngamuk. Kan dia belum tahu itu hal yang dilarang, kita tidak memberitahu sebelumnya bahwa itu tidak boleh.
Kita hanya boleh menghukum anak, kalau kita dan anak sudah sepakat sebelumnya mana yang boleh dan mana yang jangan.
Misalnya seperti ini. Anak kita biasa bermain lego, dia sudah pandai sekali bongkar pasang lego. Lalu kita belikan mobil-mobilan. Ternyata anak kita langsung copot pintu mobilnya. lalu kita bilang, "eehh JANGAN dicopot pintunya, itu mainan mahal, dasar nakal kamu"
Ini tidak fair, karena anak tidak tahu. Anak tahunya yang namanya mainan itu bisa dibongkar pasang, karena kenalnya lego. Saat ketemu mainan baru, kalau tidak kita kasih tahu, maka semua mainan akan diperlakukan sama.
Baiknya tentu saat kita kasih mobil-mobilan, kita bilang, "ini mobil-mobilan, tapi ngga bisa dibongkar kaya lego JANGAN dibongkar ya."
Kata "jangan" nya sama tapi karena yang satu setelah kejadian, dan yang satu sebelum kejadian maka maknanya berbeda. Jangan yang pertama akan menghambat kreativitas, membuat kaget dan takut, serta membuat anak merasa bersalah tanpa tahu apa salah dia.
Jangan yang kedua akan membuat anak tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Psikologi tentu saja menekankan penggunaan kata "jangan" sebisa mungkin diterapkan pada tahap sebelum kejadian terjadi. Kata jangan setelah kejadian terjadi kadang lebih cenderung membuat anak jadi takut berbuat karena takut salah, tanpa tahu mana yang disebut salah dan mana yang disebut benar.

Apakah ini ada dalam islam?
Tentu saja.
Sebelum dilarangnya khamr, banyak muslim memiliki khamr. Namun, setelah ada perintah maka semua muslim membuang khamr itu. Mereka tidak berdosa memiliki khamr karena sebelumnya belum ada larangan. Namun, apabila setelah ada larangan mereka masih memiliki khamr, maka berdosa.
Larangan itu akan berlaku hukumnya apabila ada perintahnya, ada aturannya, ada kesepakatan sebelumnya. Jika belum ada larangan, tau tau disalahkan, tentu ini tidak tepat.
Pemahaman akan konteks ini yang perlu diperbaiki.

Maka silakan gunakan kata jangan sebanyak-banyaknya, pastikan saja gunakan untuk mengajari anak tentang apa yang diharapkan terjadi dan bukan apa yang telah terjadi. Tentu saja tanpa perlu mencela psikologi apalagi mempertentangkannya dengan agama.

1 comments :